Sistem pembayaran lintas batas baru yang bekerja sama antara 5 negara Asia Tenggara, Singapura, Indonesia, Thailand, Malaysia dan Filipina baru-baru ini dilancurkan, dapat mempromosikan integrasi kewangan di antara negara-negara ini dan membuat ASEAN lebih dekat dengan tujuan integrasi ekonomi.
CNBC melaporkan bahawa sistem ini memungkinkan warga negara dari 5 negara untuk membayar barang dan perkhidmatan dalam mata wang lokal hanya dengan memindai kode QR semasa mereka berada di negara lain.
Dengan menghubungkan sistem pembayaran kode QR, dana dapat dipindah dari satu dompet digital ke dompet digital lain. Dompet digital ini pada dasarnya dapat dioperasikan seperti akaun bank, tetapi juga dapat dikaitkan dengan akaun di lembaga kewangan rasmi.
Misalnya, seorang warga Malaysia yang berkunjung ke Singapura untuk berlancong dapat menggunakan sistem pembayaran ini untuk membayar dalam ringgit Malaysia dengan menggunakan ringgit Malaysia di dompet digital mereka di Malaysia. Atau seorang warga Malaysia yang bekerja di Singapura dapat memasukkan gaji mereka ke dompet digital dolar Singapura dan kemudian memindah dana ke dompet ringgit penerima pembayaran di Malaysia.
Sistem pembayaran lintas batas ini dirancang untuk memudahkan pertukaran perdagangan, pelaburan, pengiriman wang dan kegiatan ekonomi antara negara peserta, dengan tujuan akhir membangun ekosistem kewangan bersama di antara negara-negara Asia Tenggara.
Kelima negara tersebut menandatangani perjanjian rasmi terkait pada November tahun lalu. Pada KTT ASEAN Mei tahun ini, para pemimpin negara-negara tersebut kembali menegaskan komitmen mereka terhadap projek ini dan berjanji merencanakan cetak biru untuk memperluas jalinan pembayaran regional ke semua 10 anggota ASEAN.
Kos transaksi pembayaran dan nilai tukar akan ditentukan oleh perjanjian bilateral antar bank pusat negara-negara tersebut.
Jalinan kewangan regional dianggap sangat penting jika transaksi lintas batas Asia Tenggara ingin mengurangi ketergantungan pada mata wang luar negara seperti dolar AS, terutama dalam transaksi antar perusahaan. Kerana dolar AS menguat dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan mata wang sebahagian besar negara ASEAN yang merupakan pengimport bersih energi dan makanan melemah dan ekonomi terluka.
Nico Han, analis Asia Tenggara untuk Diplomat Risk Intelligence, bahagain konsultasi dan analisis urusan ketika ini dari majalah The Diplomat, berkata: “Sistem ini akan membuat tidak lagi perlu menggunakan dolar AS atau yuan sebagai mata wang perantara.”
Dia juga menunjukkan bahawa sistem pembayaran digital lintas batas yang seragam akan “mendorong rasa kesatuan setempat serta pendekatan berpusat pada ASEAN dalam menangani urusan internasional. Mengingat ketegangan antara negara kuat utama dunia meningkat dalam beberapa tahun terakhir, tindakan ini bahkan menjadi lebih penting.”
Para analis juga mengatakan bahwa kerana konsumsi konsumen di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh, sistem pembayaran lintas batas ini akan sangat menguntungkan industri runcit dan kemudian memperkuat industri perlancongan.
Para ahli mengatakan bahawa usaha mikro dan usaha kecil menengah adalah pemenang utama dari jalinan pembayaran regional. Menurut data dari Asian Development Bank, lebih dari 90% perusahaan Asia Tenggara termasuk dalam kategori perusahaan ini.
Nico Han berkata: “Usaha kecil menengah dapat menjimat kos terkait dengan menjaga sistem lokasi penjualan fisik atau menjimat kos pertukaran yang dibayarkan kepada perusahaan kad kredit.”